Pengelolaan Pesisir Pasca UU Cipta Kerja: Harmonisasi Kewenangan Pusat dan Daerah
DOI:
https://doi.org/10.55606/jurrish.v4i4.6592Keywords:
Harmonization, Job Creation Law, KKP, Marine Space, Regional GovernmentAbstract
This study aims to analyze the authority structure between the Ministry of Maritime Affairs and Fisheries (KKP) and Regional Governments in managing coastal areas through marine spatial utilization following the enactment of Law Number 6 of 2023 concerning the Stipulation of Government Regulation in Lieu of Law Number 2 of 2022 concerning Job Creation into Law. The main instrument studied is the Confirmation of Conformity of Marine Spatial Utilization Activities (KKPRL), which functions as a licensing instrument and a control mechanism to ensure that marine spatial utilization activities remain directed, integrated, and aligned with the principles of ecological, social, and economic sustainability. The research approach used is a juridical-empirical approach with a qualitative descriptive analysis method. Through this approach, the research not only examines legal norms but also captures the practice of implementing authority in the field. The results show that although the Job Creation Law is oriented towards simplifying business licensing, several problems remain that have implications for the effectiveness of coastal governance. These issues include disharmony between central and regional regulations, overlapping authority between the Ministry of Marine Affairs and Fisheries (KKPRL) and regional governments, and weak synchronization between national policies and regional instruments such as the Coastal and Small Islands Zoning Plan (RZWP3K). In addition to regulatory constraints, this study also highlights institutional and technical aspects. Limited human resource capacity in the regions, a lack of understanding of KKPRL procedures, and minimal inter-agency coordination hamper the effectiveness of coastal management. These conditions result in slow investment realization, conflicts over spatial use, and potential coastal environmental degradation. Therefore, this study recommends a strategy for harmonizing authority through improving vertical-horizontal coordination, strengthening the institutional capacity of regional governments, and developing derivative regulations consistent with the principles of good governance.
Downloads
References
Arafat, M. (2021). Pemanfaatan ruang laut dalam kegiatan wisata bahari di kawasan Raja Ampat. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota.
Arief, H. (2021). Pengelolaan wilayah pesisir berkelanjutan. Jakarta: Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Asmara, F. (2022). Koordinasi penataan ruang laut di era OSS berbasis risiko. Jakarta: KKP Press.
Astuti, R. Y., & Budisusanto, Y. (2018). Analisa kesesuaian RZWP3K dengan eksisting penggunaan ruang laut. Jurnal Teknik ITS.
Creswell, J. W. (2016). Research design: Pendekatan metode kualitatif, kuantitatif, dan campuran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Devi, L. M. (2022). Kritik terhadap proses partisipatif dalam penyusunan RZWP3K. Ocean Governance Review, 2(1).
Hadjon, P. M. (2016). Pengantar hukum administrasi Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Hooghe, L., & Marks, G. (2023). Unraveling the central state, but how? Types of multi-level governance. American Political Science Review, 97(2).
Huala, A. (2018). Aspek harmonisasi hukum dalam pembentukan undang-undang.
Jimly, A. (2023). Hukum tata negara dan keadaan darurat konstitusional. Jakarta: Konstitusi Press.
Kitagawa, Y. (2021). Spatial planning in Japan: Lessons for developing countries. Kyoto: Urban Development Institute.
Kurniawan, T., & Prabowo, D. (2023). Tantangan implementasi kebijakan penataan ruang laut pasca UU Cipta Kerja. Laporan Kebijakan, BRIN.
Kusumastanto, T. (2013). Integrated coastal management in Indonesia: From concept to implementation. Marine Policy Journal, 39(3).
LIPI - Oseanografi. (2020). Zonasi konservasi laut berbasis masyarakat di Wakatobi.
LIPI. (2020). Kajian tata kelola pemanfaatan ruang laut di Indonesia. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
LIPI. (2022). Kajian harmonisasi tata ruang laut dan sistem perizinan nasional.
Manullang, M. (2023). Tinjauan hukum administrasi terhadap sistem perizinan terintegrasi. Jurnal Hukum & Regulasi, 5(3), 98-110. https://doi.org/10.37729/amnesti.v5i1.2759
Moleong, L. J. (2017). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Oetama, Y. M., dkk. (2023). Analisis kesesuaian budidaya laut di kawasan Taman Nasional Wakatobi. Jurnal Sumberdaya Laut, Universitas Halu Oleo.
Parbuntian, S. (2025). Eksistensi menteri negara dalam sistem pemerintahan pasca amandemen UUD 1945. Jakarta: Pustaka Mandiri.
Peter, M. M. (2010). Penelitian hukum. Jakarta: Kencana.
Putro, B. S., dkk. (2023). Analisis izin lokasi dan pengelolaan pemanfaatan ruang laut di Kabupaten Situbondo. Jurnal Teknik ITS.
Raharjo, Y. (2023). Ketimpangan implementasi penataan ruang digital di Indonesia Timur. Jurnal Desentralisasi dan Otonomi Daerah, 5(1).
Rahman, F. (2021). Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan wilayah pesisir. Jurnal Kelautan.
Rofiq, A. (2023). Perizinan ruang laut dalam perspektif hukum administrasi negara. Jurnal Legislasi Indonesia, 20(1). https://doi.org/10.55606/birokrasi.v1i4.730
Satria, A. (2014). Pengelolaan sumber daya pesisir dan laut: Perspektif hukum dan kelembagaan. Bogor: IPB Press.
Satria, A. (2020). Pengelolaan sumber daya pesisir dan laut secara terpadu. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sembiring, R. (2022). Tata ruang dan OSS-RBA: Transformasi hukum tata ruang Indonesia. Jurnal Hukum Tata Ruang, 9(2).
Simanjuntak, B., & Nurdin, M. (2023). Reformulasi tata kelola laut Indonesia: Tinjauan politik hukum. Jurnal Otonomi Daerah, 6(1).
Simanjuntak, D. (2020). Konflik kewenangan dalam tata kelola laut. Jakarta: BRIN.
Simanjuntak, D. (2023). Perizinan berbasis risiko dan ruang laut dalam UU Cipta Kerja. Jurnal Hukum dan Pemerintahan Daerah, 9(1).
Simarmata, R. (2018). Kewenangan pemerintah daerah dalam penataan laut pasca omnibus law. Jurnal Hukum Pembangunan, 48(3).
Simarmata, R. (2022). Kewenangan pemerintah daerah dalam penataan laut pasca omnibus law. Jurnal Konstitusi Daerah, 4(3).
Siregar, A. (2023). Kebijakan KKPRL dan dilema kewenangan daerah. Jurnal Tata Kelola Kelautan, 12(1).
Supriyadi, A. (2023). Kritik terhadap integrasi zonasi laut dan OSS-RBA. Jurnal Hukum Maritim, 8(2).
Suradinata, D. (2022). Pengawasan penataan ruang dalam perspektif penegakan hukum administrasi. Jurnal Hukum Tata Pemerintahan, 7(1).
Susilo, A. (2022). Proses perizinan wilayah pesisir: Studi KKPRL. Jurnal Hukum Laut.
Wahyudi, E. (2023). Analisis kesiapan daerah dalam implementasi RZWP3K. Jurnal Tata Ruang Laut Indonesia, 3(1).
Wahyudi, E. (2023). Konflik zonasi laut dan darat dalam rencana tata ruang provinsi. Jakarta: BPHN.
Wahyudi, W. (2022). Tata kelola ruang laut: Perspektif hukum dan kebijakan. Yogyakarta: Genta Press.
Wibowo, H. (2020). Implikasi hukum konflik zonasi laut antar sektor. Tesis, Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.
Wicaksono, A. (2023). Integrasi RZWP3K dengan RTR daerah: Tantangan implementatif. Jurnal Kelautan dan Tata Ruang, 11(1).
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.





