Nilai (Paca) Belis dalam Budaya Perkawinan Masyarakat Manggarai di Kelurahan Golo Wangkung Kecamatan Congkar Kabupaten Manggarai Timur
DOI:
https://doi.org/10.55606/jurrish.v4i4.6514Keywords:
Belis, Cultural Values, Manggarai, Paca, Traditional MarriageAbstract
This study aims to uncover, analyze, and document the cultural values embodied in the paca or belis tradition in Manggarai community weddings in Golo Wangkung Village, Congkar District, East Manggarai Regency. The belis tradition is understood as an important element in wedding customs that symbolizes the groom's family's respect for the bride's family for their services in raising and educating their daughter until she is ready to start a household. This study uses a qualitative approach with descriptive methods, utilizing data collection techniques through participatory observation, in-depth interviews with traditional leaders, the bridal couple, and local residents, as well as documentation of the traditional procession. The results show that belis not only contains economic value through the provision of material or livestock, but is also full of social, cultural, and spiritual meaning. The main values identified include respect for parents and ancestors, the responsibility of the groom's family for the continuity of family relationships, strengthening social ties between two extended families, and a symbol of the legitimacy of marriage according to Manggarai customs. The belis tradition also functions as a mechanism to maintain harmonious relationships between families and strengthen social networks within the community. Furthermore, this tradition plays a strategic role in maintaining local cultural identity amidst modernization and changing social values. However, challenges arise when the economic value of belis experiences inflation or a shift in meaning, potentially triggering financial burdens and conflict. Therefore, preserving the belis tradition requires adjustments to its values and implementation mechanisms to maintain its relevance, without losing the essence of respect and togetherness that are at the heart of Manggarai culture. This research makes an important contribution to the documentation and preservation of cultural heritage, and serves as a reference for local governments, traditional leaders, and the community in maintaining the sustainability of the paca or belis tradition.
Downloads
References
Akhwani, A., Nafiah, N., & Taufiq, M. (2021). Pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Pancasila melalui keteladanan dan pembiasaan di sekolah dasar. JPK (Jurnal Pancasila dan Pembiasaan di Sekolah Dasar). http://litabmas.umpo.ac.id/index.php/JPK/article/view/2823/0
Antari, L. P. S., & Liska, L. D. (2020). Implementasi nilai-nilai Pancasila dalam penguatan karakter bangsa. Widyadari: Jurnal Pendidikan. https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/widyadari/article/view/916
Asfa, I. (2021). Perlindungan hukum terhadap perkawinan adat. OSF Preprints. https://doi.org/10.31219/osf.io/qyzu2
Dafiq, N. (2018). Dinamika psikologis pada masyarakat Manggarai terkait budaya belis. Wawasan Kesehatan. https://stikessantupaulus.ejournal.id/JWK/article/view/48
Deke, M. E., Bahari, Y., & Salim, I. (2020). Perubahan wujud dan makna belis dalam perkawinan adat Bajawa Boba. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa, 9(7). https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jpdpb/article/view/41411
Djara, V. A. D., & Jaya, I. (2021). The spatial econometrics of stunting toddlers in Nusa Tenggara Timur Province 2019. Communications in Mathematical Biology and Neuroscience. http://scik.org/index.php/cmbn/article/view/6584
Doko, Y. D. (2017). Kesantunan berbahasa dalam kumpulan cerita rakyat Nusa Tenggara Timur. Retorika: Jurnal Ilmu Bahasa, 3(1), 159–169. https://doi.org/10.22225/jr.3.1.163.159-169
Fanda, M. C. (2018). Makna tu’u belis bagi masyarakat Kelurahan Mokdale Kecamatan Labolain Kabupaten Rote Ndao.
Fitriani, R., & Dewi, D. A. (2021). Membangun karakter generasi muda melalui implementasi nilai-nilai Pancasila di tengah arus globalisasi. Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, 3(2), 514–522. https://doi.org/10.31004/edukatif.v3i2.367
Hilda, Y. (2018). Makna belis dalam adat perkawinan pada masyarakat Desa Kempa Werang.
Jamaludin, J., & Sugitanata, A. (2020). Tradisi ngorek pada upacara nyongkolan perkawinan adat Sasak Tanak Awu. Al-Hukama': The Indonesian Journal of Islamic Family Law, 10(2), 319–348. https://doi.org/10.15642/alhukama.2020.10.2.319-348
Jovani, A. (2020). Nokas: Mahalnya cinta dalam balutan budaya belis di Tanah Timor, Nusa Tenggara Timur. Jurnal Inada: Kajian Perempuan Indonesia di Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar, 3(1), 93–101.
Kleden, D. (2017). Belis dan harga seorang perempuan Sumba (Perkawinan adat suku Wewewa, Sumba Barat Daya). Jurnal Studi Budaya Nusantara, 1(1), 24–34. https://doi.org/10.21776/ub.sbn.2017.001.01.03
Laudasi, F. A. C., Manafe, Y. D., & Liliweri, Y. K. (2020). Transaksional budaya belis. Jurnal Communio: Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi, 9(2), 1641–1650. https://doi.org/10.35508/jikom.v9i2.2493
Lon, Y. (2017). Belis dan hari perkawinan: Perempuan dalam budaya Manggarai, Flores. Repository Unika Santu Paulus. http://repository.unikastpaulus.ac.id/65/
Majo, P. H. (2021). Belis dan diskriminasi gender dalam budaya Manggarai serta peran aktif Gereja Manggarai dalam mengatasinya. Repository STFK Ledalero. http://repository.stfkledalero.ac.id/id/eprint/834
Mataradja, J. R. (2021). Dinamika psikologis pada pasangan yang menikah menggunakan tradisi perkawinan adat budaya belis di Kabupaten Alor Nusa Tenggara Timur. Jurnal Ilmiah Bimbingan Konseling Undiksha, 12(3). https://doi.org/10.23887/jibk.v12i3.39089
Ndaong, N., Detha, A., & Datta, F. U. (2019). Teknologi pengolahan pakan amoniasi pada sapi di Desa Nggorang, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, NTT. International Journal of Community Service Learning, 3(4), 252–259. https://doi.org/10.23887/ijcsl.v3i4.21798
Neonnub, F. I., & Habsari, N. T. (2018). Belis: Tradisi perkawinan masyarakat Insana Kabupaten Timor Tengah Utara (Kajian historis dan budaya tahun 2000–2017). Agastya: Jurnal Sejarah dan Pembelajarannya, 8(1), 107–126. https://doi.org/10.25273/ajsp.v8i01.2035
Nuwa, T. (2018). Makna belis sebagai mas kawin: Studi kasus pada pasangan suami istri yang menikah dengan menggunakan belis dan tanpa belis pada masyarakat Nagekeo, Flores.
Nuwa, T. C. (2019). Studi kasus pada pasangan suami istri yang menikah dengan menggunakan belis dan tanpa belis pada masyarakat Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur. Repository Universitas Airlangga. https://repository.unair.ac.id/87158/
Priska, I., & Yasa, K. Y. K. (2020). Upacara Kapu Agu Naka masyarakat Desa Watu Rambung Kecamatan Lembor Selatan Kabupaten Manggarai Barat ditinjau dari perspektif sosial budaya. Nirwasita: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sosial, 1(1), 64–71.
Rodliyah, S. (2016). Belis and the perspective of dignified woman in the marital system of East Nusa Tenggara (NTT) people. Journal of Education and Social Science. Universitas Sebelas Maret.
Siti, R. (2020). Pelaksanaan budaya paca (belis) dalam perkawinan adat masyarakat Manggarai Desa Golo Bilas Kecamatan Komodo. Repository Universitas Muhammadiyah Mataram. https://repository.ummat.ac.id/id/eprint/1703
Sugiarto, A., & Mahagangga, I. (2020). Kendala pengembangan pariwisata di destinasi pariwisata Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur (Studi kasus komponen produk pariwisata). Jurnal Destinasi Pariwisata. https://doi.org/10.24843/JDEPAR.2020.v08.i01.p03
Wahyuningsih, S. (2016). Makna budaya belis dalam perkawinan adat bagi masyarakat: Studi di Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.





