Tradisi Selapanan Pada Perempuan Etnis Jawa Pasca Melahirkan di Desa Limau Manis Kecamatan Tanjung Morawa

Authors

  • Nizwa Putri Salsabila Gulo Universitas Negeri Medan
  • Rosramadhana Rosramadhana Universitas Negeri Medan

DOI:

https://doi.org/10.55606/jurrish.v4i4.6434

Keywords:

Selapanan Tradition, Postpartum, Traditional Care, Javanese Women

Abstract

This study aims to examine the implementation of the selapanan tradition among Javanese postpartum women in Limau Manis Village, and to understand the meaning and community perceptions of this practice in the context of modern life. The selapanan tradition is part of local wisdom that has been passed down from generation to generation and has important value in postpartum maternal care. This study uses a qualitative method with an ethnographic approach, which allows researchers to understand cultural practices in depth through direct interaction with the community. Data collection techniques include participant observation, in-depth interviews with mothers who practice the tradition, community leaders, and traditional birth attendants, as well as documentation and field notes. The results show that selapanan is still preserved and practiced by the people of Limau Manis Village, although it has undergone several forms of adaptation to modern developments and modern medical guidelines. In its implementation, this tradition uses various natural ingredients such as parem (traditional body scrub), pilis (forehead concoction to refresh the eyes and mind), bengkungan (cloth to wrap the stomach), gerita (a kind of stagen or body binder), and the consumption of herbal medicine as part of physical care and body recovery. In addition to its physical aspects, selapanan also has a psychological dimension, providing emotional comfort and social support to postpartum mothers, thereby helping to prevent psychological disorders such as baby blues syndrome. This tradition serves not only as a form of traditional healthcare but also as a symbol of social solidarity and respect for local cultural values. Amidst the tide of modernization, preserving selapanan is crucial as a cultural identity that remains relevant. This study concludes that despite adjustments to medical developments, the selapanan tradition continues to play a significant role in maintaining maternal well-being and strengthening Javanese cultural values in the modern era.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Cahyaningrum, E. N. (2022). Tradisi puputan: Pemahaman konsep kesehatan ibu nifas dan pemberian ASI pada anak (Studi di Desa Kandangserang Kecamatan Kandangserang Kabupaten Pekalongan). Kesmas Indonesia, 14(2), 255-275. https://doi.org/10.20884/1.ki.2022.14.2.4768

Eviana, J., & Dora, N. (2024). Tradisi tingkeban sebagai etnopedagogik etnis Jawa. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 13(3), 3157-3168.

Geertz, C. (2009). Tafsir kebudayaan. Kanisius.

Hartika, W., Syah, I., & Wakidi, W. (2016). Makna tradisi selapanan pada masyarakat Jawa di Desa Gedung Agung. PESAGI (Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah), 4(2).

Hidayah, S. N., & Rahmanindar, N. (2023). Dukungan sosial selama nifas komplementer. Professional Health Journal, 5(1sp), 298-303. https://doi.org/10.54832/phj.v5i1sp.593

Ibrahim, E. A., & Asiah, N. (2018). Pijat nifas dan status fungsional ibu nifas di Medan. Buletin Farmasi, 3(1).

Ilia, D. T. (2021). Feminisme dan kebebasan perempuan Indonesia dalam filosofi. Jurnal Filsafat Indonesia, 4(3), 211-216. https://doi.org/10.23887/jfi.v4i3.31115

Jamal, E., Amin, S., & Hairulah, B. (2021). Sistem perawatan kesehatan tradisional pada masa kehamilan dan pasca melahirkan di Kabupaten Halmahera Selatan. ETNOHISTORI: Jurnal Ilmiah Kebudayaan dan Kesejarahan, 8(2), 71-81.

Jones, P. (2009). Pengantar teori-teori sosial: Dari fungsionalisme hingga postmodernisme. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Kainama, N., Tetelepta, D. P., & Tuhumena, S. F. (2021). Tradisi melahirkan suku Naulu di Posune Kabupaten Maluku Tengah. Jurnal Keperawatan Indonesia Timur (East Indonesian Nursing Journal), 1(1). https://doi.org/10.32695/jkit.v1i1.236

Kistanto, N. H. (2017). Tentang konsep kebudayaan. Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan, 10(2). https://doi.org/10.14710/sabda.v10i2.13248

Koentjaraningrat. (2016). Pengantar antropologi. Aksara Baru.

Muary, R., & Sembiring, F. A. (2022). Mandadang: Kearifan lokal masyarakat Batak untuk perempuan pasca melahirkan. Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial dan Budaya (Journal of Social and Cultural Anthropology), 8(1), 11-24. https://doi.org/10.29103/aaj.v6i2.7300

Musliati, M., & Dora, N. (2024). Tradisi perilaku pemeliharaan kesehatan ibu nifas dalam perspektif masyarakat Jawa di Desa Sei Sembilang Kec. Sei Kepayang Timur Dusun XII: Memelihara kesehatan perspektif masyarakat Jawa. Jurnal Masyarakat Sehat Indonesia, 3(01), 11-18. https://doi.org/10.70304/jmsi.v3i01.52

Nugroho, A., Badarussyamsi, B., & Nurbaiti, N. (2023). Makna simbolik tradisi mendem ari-ari masyarakat Jawa Jambi. Sungkai: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam, 1(1), 38-51.

Nurlaili, H. (2023). Tradisi kehamilan, persalinan, dan nifas masyarakat Baduy serta dampaknya pada kesehatan ibu: A scoping review. Jurnal Kebidanan, 3(2), 84-99. https://doi.org/10.32695/jbd.v3i2.486

Rachmah, I. (2014). Studi media dan kajian budaya. Prenada Media Group.

Rahmanindar, N., Zulfiana, E., & Hidayah, S. N. (2023). Pengalaman ibu pasca persalinan dan menyusui dengan asuhan kebidanan komplementer. Jurnal Ilmiah Kebidanan Imelda, 9(1), 25-32. https://doi.org/10.52943/jikebi.v9i1.1189

Rosramadhana, et al. (2020). Menulis etnografi: Belajar menulis tentang kehidupan sosial budaya berbagai etnis (1st ed.). Yayasan Kita Menulis.

Seran, A. A., Huru, M. M., Angraeningsih, N. L. M. D. P., & Al-Tadom, N. (2024). Tradisi empat puluh hari masa nifas: Praktik budaya pasca melahirkan di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur. Optimal Midwife Journal, 46-58.

Spradley, J. P. (2017). Metode etnografi. Tiara Wacana.

Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, R&D. Alfabeta.

Suryadi, M. (2019). Potret kekuatan perempuan Jawa dalam bingkai peralatan tradisional masyarakat Jawa pesisir melalui analisis peran semantis. Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa Dan Sastra, 14(1), 22-32. https://doi.org/10.14710/nusa.14.1.22-32

Usman, U., & Sapril, S. (2018). Pemanfaatan budaya posoropu dalam perawatan masa nifas oleh perempuan Buton Utara. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia Universitas Hasanuddin, 14(3), 268-277. https://doi.org/10.30597/mkmi.v14i3.4453

Widyaningrum, L., & Tantoro, S. (2017). Tradisi adat Jawa dalam menyambut kelahiran bayi (Studi tentang pelaksanaan tradisi jagongan pada sepasaran bayi) di Desa Harapan Harapan Jaya Kecamatan Pangkalan Kuras Kabupaten Pelalawan. JOM FISIP, 4(2), 1-15.

Wiyanto, B. E., & Ambarwati, K. D. (2021). Dukungan sosial dan postpartum depression pada ibu suku Jawa. Psychopreneur Journal, 5(2), 68-79. https://doi.org/10.37715/psy.v5i2.2270

Yulianti, I., Maulydia, A. M., Rahayu, E. T., Aprilia, B., & Prilisnia, N. Y. (2024). Kehamilan dalam lensa budaya menyingkapi mitos dan fakta menurut kepercayaan masyarakat suku Jawa di Kota Tarakan. Jurnal Peduli Masyarakat, 6(2), 445-452.

Zakiya, N., & Hariyadi, S. (2022). Nilai budaya kolektivisme dan perilaku asertif pada suku Jawa. Journal of Social and Industrial Psychology, 11(2), 62-71. https://doi.org/10.15294/sip.v11i2.64788

Downloads

Published

2025-08-07

How to Cite

Nizwa Putri Salsabila Gulo, & Rosramadhana Rosramadhana. (2025). Tradisi Selapanan Pada Perempuan Etnis Jawa Pasca Melahirkan di Desa Limau Manis Kecamatan Tanjung Morawa. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik Dan Humaniora, 4(4), 128–142. https://doi.org/10.55606/jurrish.v4i4.6434

Similar Articles

1 2 3 4 5 6 7 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.