Screenshot: Lebih dari Sekedar Gambar, Bukti yang Berbicara

Authors

  • Aprilia Silvi Suciana Universitas Pancasila
  • Yunan Prasetyo Kurniawan Universitas Pancasila

DOI:

https://doi.org/10.55606/jurrish.v4i2.5254

Keywords:

Cyber Crime, Screenshot, Digital Evidence, Digital Forensics

Abstract

Electronic money laundering has become a critical issue as a form of cybercrime. Advances in technology demonstrate that digital forensic applications, particularly those utilizing smartphones, can be employed to uncover digital traces of money laundering transactions. This study aims to analyze the relevance of existing legal frameworks, the effectiveness of smartphone forensic techniques, and the challenges faced in their implementation in Indonesia. Based on a review of the literature and regulatory analysis, it was found that legal frameworks such as UU No. 8 of 2010 on the Prevention and Eradication of Money Laundering (TPPU) and UU No. 19 of 2016 on Information and Electronic Transactions (ITE) provide an adequate legal foundation. However, gaps in implementation, such as limited human and technological resources, remain significant obstacles. Forensic techniques, including metadata analysis and device extraction, have shown great potential in identifying the flow of illicit funds. Nonetheless, their application is hindered by data confidentiality and the lack of uniform technical standards. Given the increasing complexity of digital crimes, an integrated approach is required, combining regulatory strengthening with technological capacity building, to enhance the effectiveness of smartphone forensics in addressing electronic money laundering.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Abdullah, R. A. F. (2022). Urgensi digital forensik dalam menganalisis barang bukti elektronik untuk pembuktian tindak pidana informasi dan transaksi elektronik [Skripsi, Universitas Hasanuddin].

Anggraeni, D. R., & Salsabila, M. (2024). Analisis yuridis peran digital forensik dalam pembuktian tindak pidana di Indonesia. Media Hukum Indonesia (MHI), 2(2).

Ariana, I. N. (2022). Tinjauan yuridis terhadap kedudukan alat bukti elektronik berdasarkan Putusan MK Nomor 20/PUU-XIV/2016. UNES Law Review, 5(1), 1–19.

Chazawi, A., & Ferdian, A. (2015). Tindak pidana informasi & transaksi elektronik: Penyerangan terhadap kepentingan hukum pemanfaatan teknologi informasi dan transaksi elektronik: UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi & Transaksi Elektronik. Media Nusa Creative.

Harahap, M. Y. (2002). Pembahasan permasalahan dan penerapan KUHAP: Pemeriksaan sidang pengadilan, banding, kasasi, dan peninjauan kembali. Jakarta: Sinar Grafika.

Heryogi, A., Ruba’i, M., & Sugiri, B. (2017). Fungsi bukti elektronik dalam hukum acara pidana pasca putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 20/PUU-XIV/2016. Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 2(1), 7–17.

Hiariej, E. O. S. (2013). Teori dan hukum pembuktian. Jakarta: Erlangga.

Hidayat, A. R. (2021). Analisis urgensi pemeriksaan digital forensic pada persidangan tindak pidana informasi dan transaksi elektronik (ITE) perkara melanggar kesusilaan dan relevansinya dengan pertimbangan hukum hakim dalam menjatuhkan putusan (Studi Putusan Nomor: 120/Pid. Sus/2020/PN SKH) [Skripsi tidak diterbitkan].

Holt, T. J., Bossler, A. M., & Seigfried-Spellar, K. C. (2022). Cybercrime and digital forensics: An introduction (3rd ed.). Routledge.

Huda, M. N. (2017). Pentingnya alat bukti dalam pembuktian minim saksi. Voice Justisia: Jurnal Hukum dan Keadilan, 1(2), 95–107.

Imron, A., & Iqbal, M. (2019). Hukum pembuktian. Surabaya: LaksBang Pressindo.

Isma, N. L., & Koyimatun, A. (2014). Kekuatan pembuktian alat bukti informasi elektronik pada dokumen elektronik serta hasil cetaknya dalam pembuktian tindak pidana. Jurnal Penelitian Hukum Gadjah Mada, 1(2), 109–116.

Makarim, E. (2005). Kompilasi hukum telematika. Jakarta: FH UI Press.

Manggala, B. S., Putri, A., Suzeeta, N. S., Zalfa, N., Marpaung, V. C., Natalia, I. H., & Nugroho, A. A. (2024). Analisis yuridis peran digital forensik dalam pembuktian kasus penipuan berkedok investasi online (Studi Kasus Doni Salmanan). Media Hukum Indonesia (MHI), 2(2), 295–301.

Medeline, F., Rusmiati, E., & Ramadhani, R. H. (2022). Forensik digital dalam pembuktian tindak pidana ujaran kebencian di media sosial. PAMPAS: Journal of Criminal Law, 3(3), 310–325.

Michael, P. I. A., & Cahyarini, L. L. (n.d.). Kekuatan verifikasi akibat cetakan (screenshot/printscreen) dan pertimbangan hakim pada aspek perkara perdata. Notarius, 17(1), 280–291.

Mutiara, D., Mulyadi, D., & Galih, Y. S. (2024). Analisis yuridis terhadap pemeriksaan alat bukti elektronik berupa hasil screenshot handphone dihubungkan dengan Pasal 6 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Pustaka Galuh Justisi, 2(2), 116–144.

Ponno, J. D. (2023). Penerapan digital forensik dalam pembuktian pencemaran nama baik di dunia maya. Lex Administratum, 12(1).

Prahara, S. (2022). Pembuktian elektronik dan digital forensik di Indonesia. Bengkulu: LPPM Universitas Bung Hatta.

Sasangka, H., & Rosita, L. (2003). Hukum pembuktian dalam perkara pidana: Untuk mahasiswa dan praktisi. Mandar Maju.

Suhariyanto, B. (2013). Tindak pidana teknologi informasi (Cybercrime): Urgensi pengaturan dan celah hukumnya. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.

Sutarman, H., Widiana, I. G., & Amin, I. (2007). Cyber crime: Modus operandi dan penanggulangannya. LaksBang Pressindo.

Downloads

Published

2025-06-05

How to Cite

Aprilia Silvi Suciana, & Yunan Prasetyo Kurniawan. (2025). Screenshot: Lebih dari Sekedar Gambar, Bukti yang Berbicara. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik Dan Humaniora, 4(2), 773–784. https://doi.org/10.55606/jurrish.v4i2.5254

Similar Articles

<< < 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.