Kritik, Kebebasan Berpendapat, dan Batas Hukum Ujaran Kebencian

(Studi Kasus Sengketa Verbal terhadap Shin Tae-yong)

Authors

  • Danang Kusuma Wardana Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
  • Ali Maskur Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

DOI:

https://doi.org/10.55606/jurrish.v5i2.7550

Keywords:

Digital Criticism, Freedom of Expression, Hate Speech, ITE Law, Shin Tae-yong

Abstract

This study examines the dynamics of public criticism of Shin Tae-yong's dismissal by PSSI as a phenomenon of digital communication that shows the tension between freedom of expression and the legal limits of hate speech. The background of this research stems from the intensity of netizens' reactions, which developed into collective moral pressure and had the potential to enter the realm of insults and hostility, as reflected in various comments, news reports, and verbal disputes involving public figures. This study aims to analyze how criticism, media framing, and netizen responses interact with the regulations of the ITE Law, particularly Article 28 paragraph (2), which is often used in reporting hate speech. The methods used are a normative juridical approach and case studies with document analysis, news reports, and academic literature techniques to identify patterns of digital expression and their legal relevance. The results of the study show that public criticism of Shin Tae-yong not only reflects performance evaluation, but also contains emotional, social identity, and moral dimensions that are reinforced by media framing and digital culture. The discussion confirms that the shift from criticism to hate speech occurs when public expression is not managed ethically, while law enforcement on hate speech articles still faces interpretation problems. In conclusion, this verbal dispute reflects the complexity of Indonesia's digital democracy and the urgency of legal reform

Downloads

Download data is not yet available.

References

Andriansyah, M. W., & Kusnadi, S. A. (2024). Hak kebebasan berpendapat di era digital dalam perspektif hak asasi manusia. Gorontalo Law Review, 7(2), 431–443.

BolaSport. (2025). Ketum PSSI Erick Thohir diserbu netizen usai isu pemecatan Shin Tae-yong kian menguat. https://www.bolasport.com/read/314201383/ketum-pssi-erick-thohir-diserbu-netizen-usai-isu-pemecatan-shin-tae-yong-kian-menguat

Cissiani, W. S., Gunawan, N. A., & Belinda, N. (2025). Kebebasan berpendapat mahasiswa di media sosial dalam perspektif hukum. Causa: Jurnal Hukum dan Kewarganegaraan, 16(1), 541–550.

Darwis, M. F., Bilah, A. S., Romadhon, T. N., & Anwar, N. (2024). Sisi lain birokrasi: Menilik kenyataan di Indonesia. Jejak Pustaka.

Detik. (2025). Netizen geruduk akun Instagram PSSI & Erick Thohir usai STY dipecat. https://www.detik.com/jateng/sepakbola/d-7719946/netizen-geruduk-akun-instagram-pssi-erick-thohir-usai-sty-dipecat

DetikNews. (2025). Lapor soal dugaan doxing, Bung Towel bawa-bawa Shin Tae-yong. https://news.detik.com/berita/d-7737688/lapor-soal-dugaan-doxing-bung-towel-bawa-bawa-shin-tae-yong

Fadhillah, S. K., & Isma, Y. S. (2025). Analisis komentar netizen di Instagram pada pemberitaan pemecatan Shin Tae-Yong. TUTURAN: Jurnal Ilmu Komunikasi, Sosial dan Humaniora, 3(1), 196–205. https://doi.org/10.47861/tuturan.v3i1.1566

Fatimah, S. (2025). Transformasi ruang publik digital: Tantangan sosial dan konstitusional dalam demokrasi era media baru. Cakrawala: Jurnal Litbang Kebijakan, 19(1), 67–86. https://doi.org/10.32781/cakrawala.v19i1.785

Fitria Ramadani. (2023). Studi budaya boikot (cancel culture) di Korea Selatan tahun 2017–2022 [Skripsi, Universitas Sulawesi Barat].

Fitriani, N. I., Ahmad, R. A. F., Nazalla, R., & Wibowo, T. S. A. (2025). Kebebasan berpendapat di era media sosial: Tantangan dan solusi hak asasi manusia. Jurnal Pemikiran Pengembangan Ilmu Pengetahuan, 1(1), 1–6.

Harahap, S. B., & Hidayat, R. (2023). Tinjauan hukum tentang kebebasan berpendapat dari aspek hukum positif dan hukum Islam (Studi kasus Bima Lampung). Unes Law Review, 6(2), 5468–5478. https://doi.org/10.31933/unesrev.v6i2.1376

IDNtimes. (2024). Facebook paling dominan dijadikan bukti pelaporan UU ITE. https://bali.idntimes.com/news/techno/facebook-paling-dominan-dijadikan-bukti-pelaporan-uu-ite-00-x4dwn-nx8n3z

Indoleft. (2025). 80 years of independence: 903 indicted for peaceful political expression since 2018. https://www.indoleft.org/statements/2025-08-15/80-years-of-independence-903-indicted-for-peaceful-political-expression-since-2018.html

Instagram. (2025). Akun Instagram @suarasurabayamedia. https://www.instagram.com/p/DEeOuAAvLnh/

JawaPos. (2025). Imbas pemecatan Shin Tae-yong, Instagram Timnas Indonesia digeruduk netizen: Pelatih baru wajib bawa Timnas ke Piala Dunia!. https://www.jawapos.com/sepak-bola-indonesia/015496735/imbas-pemecatan-shin-tae-yong-instagram-timnas-indonesia-digeruduk-netizen

Karo, R. P. P. K. (2022). Hate speech: Penyimpangan terhadap UU ITE, kebebasan berpendapat dan nilai-nilai keadilan bermartabat. Jurnal Lemhannas RI, 10(4), 52–65. https://doi.org/10.55960/jlri.v10i4.370

Khanza, F. T., & Murti, M. A. (2022). Potensi pelanggaran hak kebebasan berpendapat terhadap delik penghinaan pemerintah dalam RKUHP. Jurnal Studia Legalia, 3(1), 33–39. https://doi.org/10.61084/jsl.v3i01.23

Kompas. (2025). Attorney General's Office promises to implement Constitutional Court decision on defamation under ITE Law. https://www.kompas.id/artikel/en-kejagung-janji-terapkan-putusan-mk-soal-pencemaran-nama-baik-uu-ite

Kompas.com. (2025). Shin Tae-Yong dipecat? Kolom komentar Instagram Erick Thohir dipenuhi pertanyaan netizen. https://nasional.kompas.com/read/2025/01/05/20352861/shin-tae-yong-dipecat-kolom-komentar-instagram-erick-thohir-dipenuhi

Meilisa, N. S., & Julianto, E. N. (2025). Analisis framing pemberitaan Metro TV (Studi kasus: Kontroversi PSSI pecat Shin Tae-Yong). Media Bina Ilmiah, 19(7), 5203–5214.

NTVNews. (2025). Arya Sinulingga ancam laporkan akun penyebar hoax dan ujaran kebencian soal pemecatan Shin Tae-yong. https://www.ntvnews.id/olahraga/0130554/arya-sinulingga-ancam-laporkan-akun-penyebar-hoax-dan-ujaran-kebencian

Oktaviani, S. (2024). Konstitusi dan kebebasan berpendapat di Indonesia: Analisis keterbatasan dan perlindungan. Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Manajemen, 2(7), 174–186. https://doi.org/10.61722/jiem.v2i7.1864

Pradana, A. M., Saiful, M., Ghifari, Z. A., & Kusumo, A. D. (2025). Dinamika kebebasan berpendapat mahasiswa di media sosial. Causa: Jurnal Hukum dan Kewarganegaraan, 16(1), 21–30.

Pradana, S. A., Sudirman, R., & Alvian, M. A. (2022). Kemelitan penegakan hukum terhadap hak kebebasan berpendapat. Diktum, 156–168. https://doi.org/10.35905/diktum.v20i1.2811

Pratama, M. I., Rahman, A., & Bachmid, F. (2022). Kebebasan berpendapat dan berekspresi di media sosial dalam perspektif hak asasi manusia. Qawanin Jurnal Ilmu Hukum, 3(1), 1–16. https://doi.org/10.56087/qawaninjih.v3i1.406

Prokal. (2025). Towel ejek Shin Tae Yong, langsung dihujani kecaman netizen. https://www.prokal.co/bola-daerah/1775525190/towel-ejek-shin-tae-yong-langsung-dihujani-kecaman-netizen

Rahmawati, N., Muslichatun, M., & Marizal, M. (2021). Kebebasan berpendapat terhadap pemerintah melalui media sosial dalam perspektif UU ITE. Widya Pranata Hukum: Jurnal Kajian dan Penelitian Hukum, 3(1), 62–75. https://doi.org/10.37631/widyapranata.v3i1.270

Reuters. (2025). Indonesia sack coach Shin, citing World Cup target. https://www.reuters.com/sports/soccer/soccer-indonesia-sacks-national-football-coach-shin-citing-world-cup-target-2025-01-06/

Royani, Y. M. (2018). Kajian hukum Islam terhadap ujaran kebencian/hate speech dan batasan kebebasan berekspresi. Jurnal Iqtisad, 5(2), 211–237. https://doi.org/10.31942/iq.v5i2.2551

SAFEnet. (2024). Digital Rights in Indonesia: 2023 Situation Report — The Election Collateral Damage. https://www.icnl.org/wp-content/uploads/Digital-Rights-in-Indonesia-2023.pdf

Sethiawanza, A. (2024). Peran hukum dalam menjaga kebebasan berpendapat di media sosial: Antara hak dan kewajiban. Jurnal Kajian Hukum dan Kebijakan Publik, 2(1), 632–638.

Stella, H., Lie, G., & Syailendra, M. R. (2023). Tindak pidana penyebaran berita bohong berdasarkan UU ITE terhadap dampak dari kebebasan berpendapat masyarakat di media sosial (Kriminalisasi kasus Jerinx). Multilingual: Journal of Universal Studies, 3(4), 472–478.

Susanti, D. I. (2022). Kebebasan berekspresi dan ujaran kebencian: Kajian filsafat hukum terapan. Sapientia Et Virtus, 7(2), 100–125. https://doi.org/10.37477/sev.v7i2.363

Wiraguna, S. A. (2024). Metode normatif dan empiris dalam penelitian hukum: Studi eksploratif di Indonesia. Public Sphere: Jurnal Sosial Politik, Pemerintahan dan Hukum, 3(3). https://doi.org/10.59818/jps.v3i3.1390

Downloads

Published

2026-02-04

How to Cite

Danang Kusuma Wardana, & Ali Maskur. (2026). Kritik, Kebebasan Berpendapat, dan Batas Hukum Ujaran Kebencian: (Studi Kasus Sengketa Verbal terhadap Shin Tae-yong). Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik Dan Humaniora, 5(2), 504–520. https://doi.org/10.55606/jurrish.v5i2.7550

Similar Articles

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.