Pelaksanaan Kawin Lari dan Akibat Hukumnya di Tinjau dari Hukum Adat Batak Angkola (Studi di Desa Sibangkua)

Authors

  • Sandi Saputra Ritonga Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan
  • Bandaharo Saifuddin Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan
  • Marwan Busyro Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

DOI:

https://doi.org/10.55606/jurripen.v4i2.5545

Keywords:

Batak Angkola

Abstract

This study aims to examine the practice of elopement (kawin lari) and its legal consequences from the perspective of Batak Angkola customary law, as well as its relation to Law Number 1 of 1974 on Marriage. The research was conducted in Sibangkua Village, Angkola Barat District, South Tapanuli Regency. The method used is an empirical legal approach, with data collected through observation and interviews with traditional leaders, religious figures, village officials, and individuals involved in elopement. The findings reveal that elopement frequently occurs in Batak Angkola society, mainly due to high dowry demands, disapproval of arranged partners, or violations of social and religious norms. The resolution process is carried out through customary stages such as mandokon ulang agoan, marsapa adat, and patibal sere. Although the national marriage law does not explicitly regulate elopement, it is recognized within Batak Angkola custom and has a structured resolution mechanism. Nevertheless, socially, elopement is often viewed negatively and may damage the family’s honor.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Al-almah, S., bin Abdurrahman Ad-Dimasqi. (2011). Fiqih empat mazhab. Bandung: Al-Ma’arif.

Ash-Shiddieqy, T. M. H. (2007). Hukum Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Bakry, H. (1985). Undang-undang dan peraturan perkawinan di Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Hadikusuma, H. (1980). Pokok-pokok pengertian hukum adat. Bandung: Alumni.

Idris, M., & Al-Marbawy. (2005). Kamus Al-Marbawi. Bandung: Al-Ma’arif.

Mahmassani, S. (2007). Hukum Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Majid, A. (1980). Kaidah-kaidah ilmu fiqih. Yogyakarta: Nurcahaya.

Muktar, K. (1974). Azas-azas hukum Islam tentang perkawinan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Mulyadi. (1999). Hukum perkawinan Indonesia. Semarang: Sumur.

Pemerintah Republik Indonesia. (1974). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Pemerintah Republik Indonesia. (n.d.). Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata).

Pemerintah Republik Indonesia. (n.d.). Kompilasi Hukum Islam (KHI).

Prawirohamidjojo, S. R. (1986). Hukum orang dan keluarga. Bandung: Alumni.

Prodjodikoro, W. (1974). Hukum perkawinan di Indonesia. Bandung: Sumur.

Soedardi, A. (1979). Pengantar hukum adat Indonesia. Bandung: Sumur.

Subekti, R. (1984). Pokok-pokok hukum perdata. Jakarta: Intermasa.

Sudarto. (1997). Metode filsafat. Surabaya: PT RajaGrafindo Persada.

Sudiyat, I. (1981). Hukum adat. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.

Sugiyono. (2010). Metode penelitian administrasi. Bandung: Alfabeta.

Usman, M. (1999). Kaidah-kaidah ushuliyah dan fiqhiyah. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Wantjik, K. S. (1980). Hukum perkawinan Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Zahry, H. H. (1978). Pokok-pokok hukum perkawinan Islam. Jakarta: Bina Cipta.

Downloads

Published

2025-06-16

How to Cite

Sandi Saputra Ritonga, Bandaharo Saifuddin, & Marwan Busyro. (2025). Pelaksanaan Kawin Lari dan Akibat Hukumnya di Tinjau dari Hukum Adat Batak Angkola (Studi di Desa Sibangkua). JURNAL RISET RUMPUN ILMU PENDIDIKAN, 4(2), 173–191. https://doi.org/10.55606/jurripen.v4i2.5545